Anda perokok? kalau tidak bersyukurlah
Anda…
Kebiasaan buruk ini telah saya mulai sejak lama sekali, mungkin puluhan tahun. Melihat dampak buruk yang saya ketahui melalui merokok, dari pandangan kesehatan, lingkungan, ekonomi, semua tidak ada yang menunjukkan bahwa rokok ini menguntungkan kecuali produsen, segelintir pekerja rokok dan negara tentunya, maka saya memutuskan untuk berhenti merokok. Pertama kali saya berhenti merokok terjadi pada waktu saya masih kuliah. Uang bulanan yang masuk kalah telak dari pengeluaran pokok saya.Banyak cara yang saya lakukan untuk menghemat dari sisi pengeluaran rokok ini, dari mengurangi jatah merokok, maksudnya jatah merokok teman, hingga ngutang uang, namun pada akhirnya hanya menyebabkan saya menanggung malu. Bahkan sering saya dihadapkan pada suatu kondisi dimana saya harus memilih makan atau merokok – dan biasanya saya sering lebih memilih untuk merokok daripada makan.Hingga akhirnya saya merasa bingung dan lelah ketika harus mempercayai apa yang harus saya putuskan,berhenti merokok, namun saya memang sudah tidak berdaya melawan kondisi ekonomi.
Minggu pertama adalah masa yang paling berat, pangkal lidah terasa menebal, mulut kering dan gelisah. Perasaan ini menjadi berlipat lebih kuat apabila bertemu dengan hal-hal yang mengingatkan saya tentang kegiatan merokok, seperti ketika berjalan-jalan bertemu dengan orang yang sedang merokok, melihat asbak dan bungkus rokok. Sebenarnya keadaan “addicted” secara fisik ini hanya sekitar 5 menit, dimulai dengan perasaan aneh seperti menebal pada bagian kerongkongan dan mulut seperti kering atau ada yang bilang masam, bila kemudian saya mencoba mendefinisikan gambaran yang terjadi pada fisik saya, tiba-tiba gejala tersebut menjadi hilang dengan sendirinya. Gejala fisik ini memang bukan tantangan yang berat, tantangannya justru datang dari faktor kebiasaan. Lebih dari 15 tahun, hidup saya tergantung dengan rokok. Kegiatan apapun selalu ditemani dengan rokok di bibir, apalagi waktu itu hingga sekarang saya banyak menggunakan komputer. Sebuah pekerjaan yang sempurna bila didampingi secangkir kopi panas dan rokok. Hilangnya rokok disela bibir saya membuat perasaan yang sangat tidak enak dan menekan diri saya. Hal tersebut terjadi hingga berminggu-minggu. Setelah beberapa bulan, saya belum juga bisa tenang, gejala addicted secara fisik memang sudah hilang, namun secara psikologis belum. Kebiasaan merokok belum dapat tergantikan. Saya sudah berusaha untuk mencoba menggantikannya dengan mengulum permen mints, permen karet, atau ngemil, namun memang tidak ada satupun yang berasap… Saya kira salah satu keasyikan merokok adalah menikmati asapnya yang putih bergulung-gulung dan hal itulah yang selalu teringat. Hingga pada bulan ke dua saya mendapat uang lebih. Saya merasa tidak lagi begitu terbebani oleh desakan ekonomi dan akhirnya bagaikan sebuah pegas yang ditekan begitu kuat, lentingannyapun menjadi lebih tinggi…
Lebih dari 3 kali saya mencoba untuk berhenti merokok dan 3 kali itu juga berakhir dengan konsumsi rokok yang lebih menggila. Hingga pada suatu saat, ketika secara tidak sengaja saya menemukan artikel mengenai perang batin untuk menghentikan kebiasaan buruk di blognya Mas Dimas. Sebuah artikel yang sangat menarik dan saya mendapatkan motivasi saya untuk kembali berusaha menghentikan kebiasaan merokok. Thanks Mas Dimas
Hari ini saya juga melihat banyak blogger yang berusaha menghentikan kebiasaan merokok dan sudah sepatutnya saya menyapa mereka untuk sekedar saling mengingatkan bahwa kita bersama sedang mencoba memutuskan “pacar” kita. Kepada Mas Socrates , Mas Bayu , Mas Abibakar , dll. Salam dari saya, semoga kita bisa!
